RSS Feed

Pengorbanan untuk (Si)Apa?

Maka tatkala Ismail telah mencapai baligh, Ibrahim berkata, Wahai anakku, sungguh aku telah melihat dalam mimpikubahwa aku menyembelihmu.Maka sampaikanlah pendapatmu. Ismail menjawab, Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya’ Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Dan ketika keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (tanda kesabaran keduanya), Allah memanggilnya, Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah melaksanakan perintah dalam mimpi itu dengan benar. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik. Dan .sungguh ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami (Allah) tebus anak itu dengan sembelihan yang besar, Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian dan kemuliaan) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Keselamatan dan sejahtera atas Ibrahim. Sungguh dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

 [QS Ash Shaaffaat 102-111]

Kisah agung Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih Ismail, putra tercintanya.

Perrintah Allah langsung kepada seorang manusia dengan titel Nabi.

Lalu bagaimana dengan kita?

Sanggupkan kita berkorban seperti  halnya Nabi Ibrahim?

Jawaban yang paling Jitu dan kerap kita kemukakan adalah “Kita kan bukan Nabi, yang dapat berkomunikasi langsung dengan Allah. Sedangkan kita hanya manusia biasa. Kalau mereka memperoleh perintah, mereka tinggal menjalaninya. Karena Allah telah menjamin hasil akhirnya.”

Padahal, Allah memberi perintah kepada kita pun secara langsung, jelas dan nyata. Allah mengkomunikasikan keinginan dan perintah-Nya melalui firman-firman dalam Al-Quran, melalui hadits dan sunah Rasul serta hal-hal yang berada pada diri kita sekaligus di sekeliling kita.

Kesediaan Ibrahim untuk menyembelih anak tercintanya dan keikhlasan Ismail untuk mempersembahkan tubuhnya disembelih adalah bentuk kemenangan manusia atas romantisme keegoisan dalam diri demi kepentingan pribadi.

Sementara kita belum bersedia untuk menyerahkan selembar uang seribu rupiah untuk pengemis. Terkadang kita mengeluarkan selembar uang kusam dan bahkan berkata “ga ada uang receh”.

 ***

Sebuah kotak yang bertuliskan “INFAK MESJID” dibiarkan berlalu dihadapan kita, sedangkan kita baru saja mengucapkan dua buah kalimat “Kesaksian” kita terhadap Allah SWT dan Muhammad SAW.

Syahadat adalah ikrar. Ikrar adalah kehidupan kita mengarah dan me-Wahid-kan Allah serta mengikuti sunah Rasulullah SAW.

Maka Idul Adha adalah contoh yang Nyata atas perintah Allah atas pembuktian Pengorbanan Ikrar Kesaksian kita. Bukan hanya menyembelih seekor kambing atau Sapi, melainkan yang terlebih penting lagi adalah “menyembelih “ keegoisan dalam diri kita.

“Dan di antara manusia ada arang-orang yang mengorbankan dirinya unluk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun pada hamba-hambaNya.”
[QS. al Baqarah : 207]

kertas kaca, 09 Dzulhijjah 1432 H 

About Kertas Kaca™

learn in silence.. "i came as i was made to come, i live as life allows me to live, but i will be what i wish to be" [HIK]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: