RSS Feed

Bersyukurlah

kiriman email dari seorang Sahabat

 

Belajar Dari Cicak

Dengan muka kusut masai, si Jontor menyambangi rumah gurunya, Ade Soma Gede yang sederhana di kaki Gunung Salak.

Ketika muridnya tiba, Ade Soma Gede sedang duduk di teras rumah panggungnya yang dikelilingi oleh beragam pepohonan hutan sambil menikmati sepiring singkong rebus dan segelas kopi kental yang masih mengepul.

“Bagaimana kabarmu wahai muridku yang aku sayangi? Kenapa dirimu kelihatan demikian gundah? Apa yang merisaukan keceriaanmu muridku?” Tegur Ade Soma Gede.

“Kabar saya baik guru, semoga engkau pun begitu”, jawab si Jontor sambil mencium tangan gurunya.

“Lalu kenapa mukamu yang gagah ini menjadi seperti kain lusuh yang tak pernah dibilas?”, Ade Soma Gede kembali bertanya sambil berdiri dan menghampiri si Jontor, lalu mengelus rambut muridnya dengan lembut. Si Jontor terdiam mendengarkan pertanyaan gurunya yang bijak itu.

Pagi itu, kicau burung yang begitu riang tak begitu dinikmati olehnya. Kepalanya terpekur menikmati ucapan lebut di kepalanya. Tapi tak lama, akhirnya dia bicara juga, tak tahan memendam kalimat yang seakan ingin meloncat dari tenggorokannya.

“Maafkan muridmu yang bodoh ini guru, setelah meninggalkan tempat ini tiga tahun silam, muridmu ini merasa betapa rumitnya hidup ini”, keluh si Jontor.

“Apa gerangan masalah yang sedang engkau hadapi muridku?”, tanya Ade Soma Gede sambil berjalan ke bangku kayunya lalu menyeruput pelan kopinya.

“Saya merasa sudah bekerja keras duhai guru, tapi nyatanya, saya belum juga merasa hidup ini menjadi lapang dan tenang, malah terasa makin berat dan sesak.” Kesah si Jontor.

Mendengar keluh muridnya, Ade Soma Gede hanya tersenyum dan mengangguk-angguk kecil.

“Terkadang saya berfikir, hidup ini berlaku kurang adil. Kok ada sebagian yang diberikan rezeki berlimpah, dan ada yang serba kekurangan. Ada yang diberi kemudahan sementara saya sendiri merasakan susah sekali dalam menghadapi beban hidup yang saya jalani selama ini”, kembali si Jontor mengadu.

Bukannya menjawab keluh muridnya, Ade Soma Gede malah balik bertanya.

“Masihlah kau ingat lagu ‘Cicak Di Dinding’ yang ditulis oleh AT Mahmud wahai muridku?”

“Tentu saja saya masih mengingatnya guruku, bukankah engkau sering menyanyikannya dengan sangat merdu dahulu ketika saya masih kecil?”, si Jontor menanggapi gurunya.

“Maukah engkau menyanyikan lalu itu bersamaku sekarang?”, tanya Ade Soma Gede. Dengan muka bingung, si Jontor menatap gurunya ragu, dan akhirnya dia menyanggupi permintaan gurunya.

“Baiklah guru, mari kita bernyanyi bersama.”

Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap
Dayap seekor nyamuk
Hap, lalu ditangkap

“Coba perhatikan baik-baik lagu tersebut muridku, pelajaran apa yang bisa kau ambil darinya?” , tanya Ade Soma Gede setelah mengulang lagu itu sebanyak tiga kali.

“Maafkan muridmu yang dungu ini duhai guru, saya hanya memahami lagu itu sekedar sebagai lagu pengantar tidur,” jawab si Jontor dengan bingung.

“Cicak itu adalah binatang yang merayap, ternyata dia ditakdirkan untuk memakan nyamuk, binatang yang terbang. Pernahkah engkau pikirkan kerumitan ini?”, tanya Ade Soma Gede.

Si Jontor hanya diam seribu bahasa. “Betapa seekor binatang merayap, memangsa binatang yang terbang. Tapi apakah cicak pernah mengeluh!?”, Ade Soma Gede berkata tegas.

“Coba bandingkan dengan sebagian besar manusia, baru menghadapi sedikit saja masalah dalam hidupnya, dia sudah merasa sebagai orang yang paling tidak beruntung. Beragam keluhan yang terlontar dari mulutnya, bahkan tak jarang mereka memaki Tuhan.”

Mendengar kata-kata gurunya, si Jontor kian diam terpekur. “Belajarlah meneladani cicak muridku. Mahluk itu telah mengajarkan arti sikap ridho, dia tak pernah memaksa untuk merampas rezeki mahluk lain. Tapi coba engkau lihat sebahagian manusia, mereka tak pernah merasa puas, jangankan binatang dan tumbuhan, aspal dan beton pun dia makan”.

Ade Soma Gede mengakhiri wejangannya. Dan akhirnya si Jontor menjadi malu pada diri sendiri, dia tunduk dan tergugu, tak mampu menatap wajah gurunya kembali menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin………….

 

*Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih 

(QS Ibrahim [14]: 7).

About Kertas Kaca™

learn in silence.. "i came as i was made to come, i live as life allows me to live, but i will be what i wish to be" [HIK]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: